Kenapa Anak Zaman Sekarang Banyak yang Pakai Kacamata?

Coba perhatikan ruang kelas anak sekarang — jumlah anak yang berkacamata jauh lebih banyak dibanding satu atau dua generasi lalu. Ini bukan sekadar perasaan. Di banyak negara, terutama di Asia, jumlah anak dengan mata minus (miopia) meningkat pesat. Para ahli bahkan menyebut fenomena ini sebagai “gelombang miopia” global. Lalu, apa sebenarnya penyebabnya?

Yang meningkat terutama adalah mata minus

Sebagian besar anak yang mulai berkacamata mengalami miopia (mata minus) — kondisi saat objek jauh terlihat kabur. Pada miopia, bola mata cenderung tumbuh “terlalu panjang” sehingga bayangan jatuh di depan retina. Yang menarik, kecepatan bertambahnya minus pada anak sangat dipengaruhi oleh gaya hidup, bukan hanya keturunan.

Kenapa makin banyak anak yang minus?

1. Terlalu banyak aktivitas jarak dekat

Anak masa kini menghabiskan banyak waktu menatap layar gawai, membaca, dan belajar — semuanya pada jarak dekat. Memfokuskan mata terus-menerus ke objek dekat dalam waktu lama diyakini ikut mendorong bertambahnya minus.

2. Kurang bermain di luar ruangan

Ini faktor yang sering terlewat. Paparan cahaya alami saat beraktivitas di luar ruangan terbukti membantu memperlambat perkembangan miopia. Sayangnya, anak sekarang lebih banyak di dalam ruangan — di rumah, di kelas, atau di depan layar.

3. Faktor keturunan

Anak dengan orang tua yang juga minus memiliki risiko lebih tinggi. Keturunan tidak bisa diubah, tetapi gaya hidup yang sehat tetap dapat membantu menekan lajunya.

4. Gaya hidup modern secara umum

Layar yang dikenalkan sejak usia sangat dini, ruang bermain yang sempit, serta jadwal belajar yang padat membuat mata anak “bekerja dekat” hampir sepanjang hari. Kombinasi inilah yang membuat tren minus pada anak naik tajam dibanding dulu.

Kenapa ini bukan sekadar soal kacamata?

Kacamata memang mengoreksi penglihatan, tetapi minus yang bertambah tinggi sejak kecil perlu diperhatikan. Minus tinggi di kemudian hari dikaitkan dengan risiko gangguan mata yang lebih serius — salah satunya seperti dibahas pada hubungan minus tinggi dan risiko glaukoma. Karena itu, tujuannya bukan hanya “memberi kacamata”, melainkan juga memperlambat bertambahnya minus.

Apa yang bisa dilakukan orang tua?

  • Perbanyak waktu di luar ruangan — banyak ahli menyarankan sekitar dua jam sehari beraktivitas di luar.
  • Batasi dan jeda waktu layar — terapkan aturan 20-20-20: tiap 20 menit, lihat objek jauh (±6 meter) selama 20 detik.
  • Jaga jarak dan pencahayaan saat membaca atau menggunakan gawai; hindari menatap layar dalam gelap.
  • Periksa mata secara rutin — lihat panduan skrining mata pada anak agar gangguan terdeteksi sejak dini.
  • Pertimbangkan kontrol miopia bila minus sudah ada — misalnya tetes atropin dosis rendah atau lensa khusus, sesuai anjuran dokter.

Kabar baiknya: miopia pada anak tidak bisa dicegah 100%, tetapi lajunya bisa diperlambat. Semakin dini terdeteksi dan ditangani, semakin baik hasilnya.

Artikel ini bersifat edukatif dan bukan pengganti pemeriksaan dokter. Bila Anda menduga anak mengalami gangguan penglihatan, periksakan ke dokter mata untuk penilaian dan penanganan yang tepat.


Daftar Pustaka

  • International Myopia Institute (IMI). White Papers on Myopia. IMI.
  • World Health Organization. World Report on Vision. WHO; 2019.
  • Salmon JF. Kanski’s Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach. 9th ed. Elsevier; 2020.
  • American Academy of Ophthalmology. Basic and Clinical Science Course (BCSC), Section 6: Pediatric Ophthalmology and Strabismus. AAO.


Leave a comment